PSN-3

Peran Perempuan Dalam Pelestarian Adat

Perempuan memiliki peran paling besar dalam pelestarian adat di nusantara. Hal ini antara lain terlihat dari alat ukur atau indeks kemajuan dan pelestarian kebudayaan yang menjadi pegangan pemerintah dalam membuat program-program terkait pelestarian budaya masyarakat adat. Kebaya adalah salah satunya.

“Sudah sangat jelas bahwa posisi perempuan sangat strategis dan mendasar. Soal menjaga warisan kebudayaan, memang ada di tangan perempuan. Perempuan adalah unsur utama untuk pelestarian budaya,” kata Irini Dewi Wanti, Direktur Perlindungan Kebudayaan, Ditjen Kebudayaan dalam acara diskusi bertema Pelestarian Budaya Berkebaya Masyarakat Adat yang diadakan Komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI), 12 Maret 2023 di Perpustakaan Nasional Jakarta.

KOLABORASI

Kolaborasi Menjaga Kebaya di Asean

Disela-sela  Workshop lima negara ASEAN  yang sedang menyusun naskah bersama untuk pengajuan kebaya ke UNESCO tanggal 7 -8 Februari  yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Kebudayaan –Kemendikbud, di Jakarta,  Komunitas Kebaya Indonesia menyajikan serangkaian kegiatan untuk  para delegasi,  tamu kehormatan dan berbagai komunitas.

Dalam merayakan budaya “kebaya” bersama dengan negara tetangga Komunitas Kebaya Indonesia yang terdiri dari 12 komunitas kebaya dan didukung lebih dari 400 komunitas, ikut berpartisipasi merayakan kebersamaan dan kerjasama budaya ini. Tak kurang dari Erina Gudono istri Kaesang, putra bungsu Presiden Jokowi ikut datang di acara ini.

PAMERAN

Mesin Waktu Pameran Foto ‘Kebaja Saja’

Berkunjung ke Pameran Foto yang berjudul “Kebaja Saja” di Galeri Foto Antara, Pasar Baru, Jakarta, seolah-olah berjalan di “mesin waktu”. Menyusuri perjalanan “sang kebaja” hingga ke “kebaya jaman now”, mulai dari tahun 1900an hingga yang mutakhir tahun 2022, kita seperti melintasi masa perjalanan kebaya.  Bahkan ada satu foto circa 1880, sehingga kita akan menjadi yakin bahwa tradisi berkebaya memang merupakan tradisi dari para lelulur kita dan saya menjadi paham mengapa penyelenggara mengambil judul dengan menggunakan ejaan lama “Kebaja Saja” (Kebaya Saya). Cocok juga pameran ini diberi judul “Kebaya Melintasi Masa”, seperti judul buku yang ditulis ramai-ramai oleh 28 penulis pecinta kebaya yang dibimbing oleh mbak Soesi Sastro, karena foto-foto yang dipamerkan memperlihatkan kebaya yang melintasi berbagai era.